rss

Sabtu, 25 Desember 2010

Teknologi Umum Wireless LAN

1. Standar IEEE 802.11
Standar IEEE 802.11 mengkhususkan pengembangan teknologi lapisan fisik dan link wireless LAN (lapisan 1 dan 2 OSI). Ada 6 standar yang dipakai:

a. 802.11a
Beroperasi pada band 5GHz dengan teknologi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplex). Menawarkan data rate yang besar namun mempunyai range yang lebih kecil karena beroperasi pada frekuensi yang lebih tinggi dibanding standar 802.11b maupun 802.11g.

b. 802.11b
Merupakan standar yang beroperasi pada 2.4 GHz ISM. Standar ini memberikan daerah cakupan yang cukup baik dan menawarkan data rate pada 1, 2, 5.5, dan 11 Mbps yang dapat dipilih dengan menggunakan DSSS.

c. 802.11d
Standar kebutuhan fisik (channel, hopping, pattern, MIB snmp)

d. 802.11e
Pengembangan aplikasi LAN dengan Quality of Service (QoS), keamanan dan autentifikasi untuk aplikasi seperti suara, streaming media dan konferensi video.

e. 802.11f
Rekomendasi praktis untuk Multi-Vendor Access Point Interoperability melalui Inter-Access Point Protocol Access Distribution System Support.

f. 802.11g
Merupakan pengembangan 802.11b. Standar untuk penggunaan DSSS dengan transfer 20Mbps dan OFDM 54Mbps. Standar ini backward-compatible dengan 802.11b dan bisa dikembangkan sampai lebih dari 20Mbps

2. Mode Operasi 802.11

Pada standar 802.11 terdapat dua macam perangkat, yaitu sebuah station wireless (client), yang dapat berupa PC, laptop, atau PDA yang dilengkapi dengan wireless network interface card (NIC) dan sebuah access point (AP) yang berperan sebagai jembatan (bridge) antara jaringan wireless dengan jaringan kabel. AP dapat dikonfigurasi dalam tiga mode, yaitu mode root, mode repeater, dan mode bridge.

 a. Mode Root
 Biasanya digunakan ketika AP digunakan sebagai penghubung ke backbone jaringan kabel dengan interface-nya (biasanya ethernet). AP dapat berkomunikasi dengan AP yang lain guna koordinasi fungsi roaming seperti reasosiasi. Station wireless dapat berkomunikasi dengan station wireless yang lain yang terletak pada sel lain dengan AP yang bersangkutan melalui jaringan kabel.

b. Mode Bridge
 Pada mode ini AP berfungsi sebagai wireless bridge. Hanya AP model tertentu saja yang memiliki fungsi bridge dan harganya lebih mahal disbanding dengan AP biasa. Pada mode ini station tidak berasosiasi dengan bridge, akan tetapi bridge digunakan untuk menghubungkan dua segmen jaringan kabel secara wireless.

c. Mode Repeater
 Pada mode ini satu AP berfungsi sama seperti mode root dan AP yang lain sebagai repeater. Namun penggunaan mode ini tidak dianjurkan karena AP yang berfungsi sebagai repeater berkomunikasi dengan station begitu juga dengan AP jaringan diatasnya secara wireless sehingga mengurangi throughput pada segmen wireless dan akan mengalami delay yang lebih besar. Mode operasi pada standar 802.11 ada dua macam, yaitu mode adhoc dan infrastruktur.

d. Mode Ad Hoc
 Disebut juga mode peer to peer atau Independent Basic Service Set (IBSS) yang merupakan kumpulan dari dua atau lebih station wireless yang saling berkomunikasi satu sama lain secara langsung tanpa menggunakan access point. Mode ini digunakan untuk membuat WLAN secara cepat dan mudah dimana saja dan kapan saja ketika akses ke jaringan kabel tidak dibutuhkan.
Mode Ad Hoc.JPG

e. Mode Infrastruktur

Dalam mode infrastruktur, jaringan wireless mambutuhkan paling sedikit satu access point dan lebih dari dua station wireless. Konfigurasi ini disebut juga Basic Server Set (BSS). Dalam pengembangannya, dua atau lebih BSS yang bergabung dan membentuk sebuah subnet tunggal selanjutnya disebut Extended Service Set (ESS). Trafik diteruskan dari satu BSS ke BSS yang lain melalui Distribution System (DS), yang biasanya berbentuk ethernet LAN. Mode ini yang paling banyak digunakan karena mencakup daerah yang lebih luas dan dapat menjalankan layanan aplikasi seperti file transfer, web browsing, telnet, voip, ataupun email.

Mode Infrastruktur.JPG
3 Layer Fisik 802.11

Pada layer fisik ini terdapat dua teknologi utama pada komunikasi wireless yaitu Radio Frequency dan InfraRed. Pada radio frequency terdapat FHSS dan DSSS yang keduanya berdasarkan teknologi spread spectrum. InfraRed tidak digunakan dalam wireless LAN karena tidak dapat digunakan dalam keadaan tidak line of sight (LOS) dan jarak jangkauan yang pendek. Komunikasi dengan menggunakan teknologi spread spectrum memiliki karakteristik bandwidth lebar dan daya kecil.

4 Layer Data Link 802.11
Terdiri atas dua lapisan sub layer, yaitu Logical Link Control (LLC) dan Media Access Control (MAC). 802.11 menggunakan LLC 802.2 dan 48-bit addressing yang sama seperti dipakai oleh LAN 802 yang lain. Hal ini menyebabkan proses bridging yang sederhana dari jaringan wireless ke jaringan kabel IEEE yang lain. MAC 802.11 mirip dengan konsep 802.3 (ethernet) yang didesain untuk mendukung banyak pengguna dalam sharing medium dengan tiap pengirim diharuskan untuk merasakan (sense) medium sebelum mengaksesnya.

5 Asosiasi, Arsitektur Selular dan Roaming
 Layer MAC 802.11 bertanggung jawab terhadap cara sebuah station untuk terasosiasi dengan sebuah AP. Ketika sebuah station berada pada daerah jangkauan dari beberapa buah AP sekaligus, station tersebut akan memilih sebuah AP untuk berasosiasi berdasarkan kekuatan sinyal dan pengamatan packet error rates. Ketika AP tersebut menerima permintaan asosiasi, station tersebut akan berpindah pada channel radio yang diapakai oleh AP. Secara periodik, station tersebut akan memindai semua channel 802.11 untuk mencari access point lain yang memiliki unjuk kerja lebih baik. Jika AP baru yang lebih baik tersebut ditemukan, station akan melakukan reasosiasi dengan AP baru tersebut dan berpindah pada channel yang dipakainya Reasosiasi biasanya terjadi karena wireless station berpindah secara fisik dari AP semula sehingga sinyal yang diterima melemah. Reasosiasi juga dapat terjadi karena perubahan karakteristik radio dalam sebuah gedung atau karena trafik jaringan yang tinggi pada AP semula.

6 Interferensi

Direct Interference, merupakan interferensi yang disebabkan oleh perangkat-perangkat 802.11 lain yang beroperasi pada frekuensi atau kanal yang sama dalam satu area.

Indirect Interference, merupakan interferensi yang disebabkan oleh perangkat-perangkat selain 802.11 tetapi bekerja pada spektrum frekuensi yang sama.

Path Interference, dibagi dalam 4 kategori; Reflection, Refraction, Diffraction, dan Scattering. Frekuensi radio (terutama pada range 5 Ghz) memiliki kecenderungan yang kuat untuk dipantulkan oleh benda-benda logam, cermin, dan benda keras lainnya.

Path Interference.JPG

Line of Sight Interference
Disebabkan oleh penyerapan sinyal oleh benda-benda yang dilaluinya.

7 Pemilihan Channel
Untuk menghindari interferensi, untuk jaringan yang menggunakan banyak channel diperlukan minimal jarak frekuensi tengah setiap channel yang digunakan adalah minimal 25 MHz. Channel-channel yang dapat digunakan secara berdekatan tanpa pengaruh interferensi (non-overlapping) adalah channel 1, 6, dan 11. Gambar di bawah ini menunjukan pemilihan channel yang tidak saling mengganggu.

Channel non Overlapping.JPG
Channel-channel non overlapping ini berguna untuk desain jaringan yang terdiri dari banyak access point yang saling berdekatan, dimana dengan menggunakan ketiga channel non-overlapping yang berbeda untuk setiap access point maka jaringan tersebut akan terhindar dari interferensi. Pada perencanaan kali inidigunakan pemilihan channel seperti pada tipe yang pertama yaitu channel 1,6 dan 11 agar frekuensi yang digunakan tidak saling menginterferensi satu sama lain.

8 Fade Margin

Fade margin adalah perbedaan antara besarnya sinyal pada receiver (RSL) dengan sinyal minimum yang ditentukan oleh suatu perangkat. Tingginya fade margin lebih real pada hubungan akan tepat jumlahnya untuk mempertahankan suatu link. Tetapi kondisi fade margin yang baik adalah lebih besar dari 10dB. Besarnya fade margin dapat dihitung dengan persamaan :
Fade margin = RSL – Receiver threshold

0 komentar:


Posting Komentar

Blog Archive

 

About Me